kata baku dan tidak baku

FADLU RIDWANUL HAKIM  (1ID06)

32412635

 

KATA BAKU DAN TIDAK BAKU

 

Kata-kata baku adalah kata-kata yang standar sesuai dengan aturan kebahasaaan yang berlaku, didasarkan atas kajian berbagai ilmu, termasuk ilmu bahasa dan sesuai dengan perkembangan zaman. Kebakuan kata amat ditentukan oleh tinjauan disiplin ilmu bahasa dari berbagai segi yang ujungnya menghasilkan satuan bunyi yang amat berarti sesuai dengan konsep yang disepakati terbentuk.

Kata baku dalam bahasa Indonesia memedomani Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang telah ditetapkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa bersamaan ditetapkannya pedoman sistem penulisan dalam Ejaan Yang Disempurnakan.

Dalam Pedoman UmumPembentukan istilah (PUPI)diterangkan sistem pembentukkan istilah serta pengindonesiaan kosa kata atau istilah yang berasal dari bahasa asing. Bila kita memedomani sistem tersebut akan telihat keberaturan dan kemapanan bahasa Indonesia.

Kata baku sebenanya merupakan kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah ditentukan. Konteks penggunaannya adalah dalam kalimat resmi, baik lisan maupun tertulis dengan pengungkapan gagasan secara tepat.

Suatu kata bisa diklasifikasikan tidak baku bila kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang ditentukan. Biasanya hal ini muncul dalam bahasa percakapan sehari-hari, bahasa tutur. Berikut ini saya tampilkan 100 kata baku dan tidak baku yang sering muncul dalam percakapan sehari-hari, yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.

Kata BAKU dan TIDAK BAKU

A

1. aktif              = aktip
2. ambulans       = ambulan
3. Analisa           = analisis
4. andal             = handal
5. anggota         = angauta
6. antre             = antri
7. apotik            = apotek
8. asas              = azas
9. atlet              = atlit

B

10. bus      = bis
11. Berpikir        = berfikir

C

12. cabai            = cabe, cabay
13. Cenderamata = cinderamata

D

14. daftar           = daptar
15. definisi         = difinisi
16. depot           = depo
17. detail           = detil
18. diagnosis      = diagnosa
19. diferensial     = differensial
20. dipersilakan   = dipersilahkan
21. disahkan       = disyahkan

E

22. ekspor          = eksport
23. ekstrem        = ekstrim
24. ekuivalen      = ekwivalen
25. embus          = hembus
26. esai             = esei

F

27. formal          = formil
28. februari        = pebruari
29. fiologi           = phiologi
30. fisik             = phisik
31. Foto             = photo
32. fondasi                 = pondasi
33. frekuensi      = frekwensi

G

H

34. hafal            = hapal
35. hakikat         = hakekat
36. hierarki        = hirarki
37. hipotesis       = hipotesa

 

I

38. insaf    = insyaf
39. ikhlas   = ihlas
40. impor   = import
41. istri      = isteri
42. ijazah   = ajasah, ijasah
43. izin      = ijin
44. imbau = himbau
45. isap     = hisap

J

46. jaman         = zaman
47. jenazah        = jenasah
48. justru           = justeru

K

49. karier           = karir
50. kaidah          = kaedah
51. kategori        = katagori
52. khotbah        = khutbah
53. konferesi      = konperensi
54. kongres        = konggres
55. kompleks      = komplek
56. kualifikasi     = kwalifikasi
57. kualitas        = kwalitas
58. kuantitatif     = kwantitatif
59. koordinasi     = koordinir

L

M

60. manajemen = menejemen
61. manajer       = menejer
62. masalah       = masaalah
63. masjid          = mesjid
64. merek          = merk
65. meterai        = meterei
66. metode        = metoda
67. miliar           = milyar
68. misi             = missi
69. mulia           = mulya
70. mungkir        = pungkir
71. museum       = musium

N

72. narasumber = nara sumber
73. nasihat                 = nasehat
74. November     = Nopember

O

75. objek   = obyek
76. objektif = obyektif

P

77. paspor          = pasport
78. peduli           = perduli
79. praktik                 = praktek
80. provinsi        = propinsi
81. putra            = putera
82. profesor       = proffesor

Q

R

83. ramadhan     = ramadan
84. risiko            = resiko

S

85. saraf            = syaraf
86. sekadar        = sekedar
87. silakan         = silahkan
88. sistem          = sistim
89. saksama       = seksama
90. Standardisasi = standarisasi
91. subjek          = subyek
92. subjektif       = subyektif

T

93. teknik          = tehnik
94. teknologi      = tehnologi
95. terampil        = trampil
96. telantar        = terlantar

U

97. ubah    = rubah
98. utang   = hutang

V

99. varietas = varitas

W

X

Y

Z

100. zaman = jaman

 

Perubahan Kata Baku dan Tidak Baku Terbaru

Perkembangan bahasa Indonesia begitu pesat sehingga hal itu menyebabkan masyarakat pemakai bahasa Indonesia terkadang mengabaikan kaidah-kaidah bahasa Indonesia. Sebagai contoh, pemakai bahasa Indonesia, seperti wartawan kadang-kadang tidak memedulikan kaidah k, p, t, s dalam menuangkan tulisannya di media-media cetak. Banyak ditemukan ketidakseragaman dalam penulisan setiap kata yang dimulai dengan fonem p baik yang bersuku kata dua maupun tiga jika diberi awalan me(N)- atau meng- (beserta variasi imbuhannya) fonem pertamanya ada yang melebur/luluh (sesuai dengan kaidah bahsa Indonesia) ada juga yang tidak melebur.

contoh :

-memperkosa             = memerkosa
-mempesona              = memesona
-mempopulerkan                 = memopulerkan
-mengkomunikasikan   = mengomunikasikan
-mempengaruhi          = memengaruhi
-mempedulikan           = memedulikan
-mensosialkan             = menyosialkan
-mempelihara             = memelihara
-mensentralisasi          = menyentralisasi
-mensetrika                = menyetrika

Kata – kata diatas sering kita temui atau kita lihat di media masa seperti koran ,majalah dll.Pdahal dalam hal ini wartawan adalah pengguna bahasa yang baik dan benar,namun apa yang terjadi adalah sebaliknya.

Berdasarkan kenyataan tersebut, tampak jelas bahwa wartawan/pemakai bahsa Indonesia lebih menaati kaidah k, p, t, s untuk setiap kata yang berkuku kata dua dibandingkan dengan bersuku kata tiga atau lebih. Tampaknya kita sulit membuat aturan baru, yakni kaidah k, p, t, s hanya berlaku untuk setiap kata yang bersuku kata dua. Hal itu disebabkan oleh kita sudah terlanjur menggunakan kata-kata tersebut dalam kehidupan sehari-hari dan tanpa ada standarisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar.Akibatnya, hal itu bisa membingungkan masyarakat pemakai bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahasa persatuan bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi bahasa Indonesia adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu.Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan. Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa Indonesia saat ini dari varian bahasa Melayu yang digunakan di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing.

Banyak orang kurang menyetujui pemakaian bahasa “baku” karena mereka kurang memahami makna istilah itu. Mereka mengira bahasa yang baku selalu bersifat kaku, tidak lazim digunakan sehari-hari, atau bahasa yang hanya terdapat di buku. Mereka berpendirian bahwa kita cukup menggunakan bahasa yang komunikatif, maksudnya mudah dipahami. Mereka beranggapan bahwa penggunaan ragam baku mengakibatkan bahasa yang kurang komunikatif dan sulit dipahami. Pemahaman semacam ini harus diluruskan. Keterpautan bahasa baku dengan materi di media massa ialah bahwa ragam ini yang paling tepat digunakan supaya bahasa Indonesia berkembang dan dapat menjadi bahasa iptek, bahasa sosial, atau pun bahasa pergaulan yang moderen. Bahasa yang baku tidak akan menimbulkan ketaksaan pada pemahaman pembacanya. Ragam bahasa baku akan menuntun pembacanya ke arah cara berpikir yang bernalar, jernih, dan masuk akal. Bahasa Inggris, dan bahasa-bahasa lain di Eropa, bisa menjadi bahasa dunia dan bahasa komunikasi dalam ilmu pengetahuan karena tingginya sifat kebakuan bahasa-bahasa tersebut.

Di samping itu, bahasa baku dapat menuntun baik pembaca maupun penulisnya ke arah penggunaan bahasa yang efisien dan efektif. Bahasa yg efisien ialah bahasa yg mengikuti kaidah yang dibakukan atau yang dianggap baku dengan mempertimbangkan kehematan kata dan ungkapan. Bahasa yang efektif ialah bahasa yang mencapai sasaran yang dimaksudkan.

Ada beberapa ciri yang dapat digunakan untuk mempertimbangkan kebakuan kalimat, antara lain:

1. Pelesapan imbuhan, misalnya “Kita harus hati-hati dalam menentukan sample penelitian ini” (seharusnya “berhati-hati”).
2. Pemborosan kata yang menyebabkan kerancuan atau bahkan kesalahan struktur kalimat, misalnya “Dalam rapat pimpinan kemarin memutuskan susunan pengurus baru” (kata dalam dapat dibuang).
3. Penggunaan kata yang tidak baku, termasuk penggunaan kosakata bahasa daerah yang belum dibakukan. Contoh, “Percobaan yang dilakukan cuma menemukan sedikit temuan” (Cuma diganti hanya).
4. Penggunaan kata hubung yang tidak tepat, termasuk konjungsi ganda, misalnya ”Meskipun beberapa ruang sedang diperbaiki, tetapi kegiatan sekolah berjalan terus.” (konjungsi tetapi sebaiknya dihilangkan karena sudah ada konjungsi meskipun).
5. Kesalahan ejaan, termasuk penggunaan tanda baca.
6. Pelesapan salah satu unsur kalimat, misalnya ”Setelah dibahas secara mendalam, peserta rapat menerima usul tersebut” (subjek anak kalimat ‘usul tersebut’ tidak boleh dilesapkan).

Sekarang banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi dalam kebakuan kata yang terkadang membuat para pembaca merasa aneh, mungkin karna mereka belum mengetahuinya. Seperti halnya kata-kata berikut, MEMENGARUHI, MEMESONA, MEMERHATIKAN, MEMERKOSA, MEMERCAYAI, MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN, MEMERBESAR, MEMERSATUKAN, MEMERBOLEHKAN….

Intinya, prefiks gabungan MEMPER +…. diluluhkan menjadi MEMER + ….

Kata-kata bentukan baru seperti contoh di atas diperkenalkan oleh harian KOMPAS pada 2005. Kebetulan koran Jakarta ini berhari jadi ke-40 tangal 28 Juni 2005. Redaktur bahasa KOMPAS bikin kebijakan, sejauh yang saya tangkap: meluluhkan semua konsonan tak bersuara [k, p, t, s]. Maka, ME + PESONA menjadi MEMESONA. Bentukan MEMPESONA yang kita pakai selama bertahun-tahun dianggap salah. MEMERHATIKAN, MEMERKOSA, MEMENGARUHI….

Kata dasar serapan dari bahasa asing pun diluluhkan. Contoh: KONSUMSI, POPULER, SOMASI…. ditambah awalan me + menjadi MENGONSUMSI, MEMOPULERKAN, MENYOMASI….

Berdasarkan kenyataan tersebut, tampak jelas bahwa wartawan/pemakai bahsa Indonesia lebih menaati kaidah k, p, t, s untuk setiap kata yang berkuku kata dua dibandingkan dengan bersuku kata tiga atau lebih. Tampaknya kita sulit membuat aturan baru, yakni kaidah k, p, t, s hanya berlaku untuk setiap kata yang bersuku kata dua. Hal itu disebabkan oleh kita sudah terlanjur menggunakan kata menyelimuti, menyelenggarakan, menyesuaikan, menyetrika, memeriksa, menyelinap, menyunting. Dalam hal ini, perlu ada standarisasi yang jelas untuk kaidah k, p, t, s.

Sehubungan dengan hal terebut, pantas saja sejumlah mahasiswa mengelar aksi unjuk rasa dengan memegang sebuah poster bertuliskan “Aku cinta bahasa Indonesia” di sekitar Bundaran HI Jakarta beberapa waktu lalu. Karena tanpa ada standarisasi bahasa Indonesia yang baik dan benar, justru hal itu membuat pengimbuhan kata Indonesia dan kata serapan menjadi tidak seragam dan gamang. Akibatnya, hal itu bisa membingungkan masyarakat pemakai bahasa Indonesia.

Jadi, siapkah kita berpegang pada standarisasi untuk fonem k, p, t, s. Hal itu tampaknya bergantung pada kesiapan dan kedisiplinan masyarakat pemakai bahasa dalam menaati kaidah-kaidah yang sudah ada.

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s